www.lppdjatim.org, Mesir- Hengky Shalih bin Jufri Al-Jawi Indonesiyyi Al-Azhary, lebih senang dipanggil Hengky, kelahiran Tulungagung tahun 1999. Perawakannya kecil, kurus dan sangat santun. Jika bertutur kata sangat halus, dan tidak berani menatap wajah lawan bicaranya, dia selalu menunduk. Tidak disangka jika sekarang kuliah S2 di Universitas al-Azhar, mengambil keahlian Ilmu Hadits, suatu keahlian yang cukup langka di Indonesia. Dia sempat berkisah, ketika lulus MAN 2 Tulungagung, dia menyadari kalau Bahasa Arabnya sangat lemah, tapi keinginan melanjutkan studi di Al-Azhar sangat kuat, akhirnya harus mondok untuk memperdalam ilmu alat, Bahasa arab dan menghafalkan al-qur’an di Pesantren Munas Semarang dan Pesantren Al-Falah Rembang. Tekadnya yang kuat itulah akhirnya mengantarkannya berhasil menimba ilmu ke Mesir.
Selama di Mesir, banyak kisah inspiratif. Saya ingat pesan Bu Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur ketika melepas Calon Mahasiswa Al-Azhar Program Beasiswa yang dirintisnya, beliau bilang:
“Tolong diingat, bahwa anak-anak ke Mesir untuk Mencari Ilmu dan Mencari Berkah. Mencari ilmu karena di Mesir banyak orang alim, mencari berkah karena di Mesir banyak Wali”. Nampaknya ini lelaku yang dilalui Hengky, mencari ilmu dan mencari berkah di Mesir.
Saya akhirnya melacak keberadaan Hengky di Mesir, Mas Itho’ Athoillah berkenan menghubungi Hengky, akhirnya 2 jam sebelum meninggalkan Mesir kita bisa ketemu di Wisma Jawa Tengah. Hengky sangat terbuka, diskusi cukup mengasyikkan. Dalam usia yang masih sangat muda, sudah berhasil menulis 6 kitab berbahasa arab dan semuanya diterbitkan di Mesir, Subhanallah.
Dari yang awalnya lemah kemampuan Bahasa Arab dia mengejar ketertinggalannya akhirnya bisa menulis banyak kitab, salah satu kitab karangannya berjudul “Zubdatus Shofi Fil ‘Arudhi wal qawafi” yang sudah mengalami empat kali cetak ulang di Penerbit Darushsholah Kairo Mesir.
Dia melanjutkan kisahnya, dia tekuni kitab-kitab standar dibawah bimbingan gurunya yang ahli Bahasa arab dan hadits, dan dia akhirnya diberi kepercayaan mengisi halaqah di majelis binaan gurunya, inilah strategi mencari ilmu sekaligus mencari keberkahan. Akhir-akhir ini karya-karya Hengky juga dikaji oleh para syaikh jejaring gurunya.
Dia juga senang jika diberi kesempatan mengisi pelatihan, karena dari pelatihan tersebut dia membuat konsep dan darinya akan muncul inisiatif bikin ringkasan, yang sewaktu waktu bisa dikembangkan menjadi buku. Di Kairo, kami bukan hanya ketemu Hengky, tapi juga ketemu Mas Faiz Husaini dan istri. Mas Fais adalah Ketua Tanfidhiyah PCI NU Mesir, Mas Faiz dan Istrinya sama-sama Mahasiswa S3 yang sama-sama mengambil keahlian Tafsir. Senang sekali ketemu pemuda-pemuda hebat di Kairo Mesir. “Sangat Inspiratif”.

0 Komentar